Minggu, 22 September 2013

(cerpen) BANCI POCONG ALAY Ketemu WARIA TAMAN LAWANG

            Sebut saja Banci Pocong Alay. Dia meninggal diusia 20 tahun kurang . Tau nggak dia meninggal karena apa?. Dia meninggal ditabrak angkot disekitar daerah Taman Lawang. Makanya Banci Pocong Alay ini biasaya beraktifitas di daerah tersebut. Heh?.. Nggak percaya?? Silakan aja ke Taman Lawang. Setiap malam Banci Pocong Alay keluar dari makamnya untuk berlompat-lompatan, mengelilingi taman yang dihiasi wanita-wanita yang.......jangan, tidak baik kalau menulis yang aneh-aneh. Mending kita sebut saja wanita kantoran. Hehehe
Sebenarnya makan Banci Pocong Alay ini jauh dari daerah Taman Lawang. Tapi karena matinya di daerah tersebut, jadi Banci Pocong Alay ini sudah PW (Posisi wuenaak) di daerah tersebut.
Banci Pocong Alay?.. Emang ada?. Pasti pertanyaan itu yang sekarang ada dipikiran kalian. Banci Pocong Alay ini sama saja seperti Pocong pada umumnya. Memakai kain kafan, tubuhnya diikat, terus nggak bisa jalan (bisanya lompat doankk). Dan kenapa dia banci?... emang dari sananya seperti itu. Sewaktu masih menjabat sebagai manusia dan mempunyai KIM, dia memang sudah melambai, rempong, dan cuco’. Dan ternyata sifat dan kebiasaannya itu di bibawa ke dunia perpocongan.
Ya malam ini malam jum’at kliwon. Sesuai dengan perjanjian dunia perhantuan terdahulu, tertulis kalau Pocong dan beberapa rekan-rekannya wajib untuk menghantui penduduk. Banci Pocong Alay pun juga keluar dari makamnya. Loncatan demi loncatan, dan akhirnya Ia sampai di Taman Lawang. Angin bertiup begitu kencang. Biasanya keadaan seperti ini si Banci Pocong Alay pasti sudah beraksi. Kalau dikhas kayak Film horor, sudah ada musik-musik seram yang membuat bulu kuduk merinding. Takyuuuutttt bo’
“Ho..ho.. ada waria. Gangguin ahh”
Angin berdesir makin kencang, daun-daun kering beterbangan. Dan kemudian terdengar teriakan melengking. Tapi teriakan melengking ini berbeda. Teriakannya agak sedikit melambai, rempong, dan pastinya cuco’.
“Ah...aaaa POOOCCCCYYYYYOOOUNNNG” suara waria Taman Lawang tampak gemetaran. Dia menutupi mukanya dengan sehelai kain yang dia bawa ditangan kanannya. BanciPocong Alay dan waria Taman Lawang  terdiam membisu, saling menatap.
“Hei.. you sapose? Tanya Banci Pocong Alay
“Ekyee??.. hee Eelizabeth “ jawabnya masih gugup
“Ye banci juga yah?” tanya pocong lagi
“Bukan, tapi ekye waria” masih gugup
“Sama aja kalllee..huuuu” Sahut Banci Pocong Alay dengan super duper alay.
Ini pertama kali waria itu melihat pocong secara langsung. Karena sudah sangat gugup dan ketakutan, waria yang nama malamnya Elizabeth itu kabur tidak karuan.
“Eh bo’... sepatunya ketinggalaaaan” teriak Banci Pocong Alay
“EGP.... ekye nggak butuh..” berbicara sambil berlari
          Sebenarnya Banci Pocong Alay berniat untuk bersahabat dengan waria itu. Tapi mungkin waria itu belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan kalau yang dia temui adalah makhluk berpakaian putih ketat seperti gogos yang belum dibakar. Nah kalo udah di bakar, modelnya kayak gimana yah?.
“Pokoknya Ekye harus berteman dengan waria itu!. Ekye kan baik. Dan ekye yakin waria itu juga baik. Selain itu, spertinya dia asik untuk diajak ngegosip tentang cowo’-cowo’ keren. Wooooww... capcussssss cyiiiin”
          Malam berikutnya, Banci Pocong Alay berniat untuk menemui waria itu. Hampir dua jam,satu setengah menit, dan enam puluh delapan detik Banci Pocong Alay menunggu Elizabeth ( waria Taman Lawang).
“Idih.. mana sih nih. Elizabeth kok nggak mangkal sih”
Dan beberapa menit kemudian, dari kejauhan terlihat seseorang berpakaian layaknya seperti perempuan yang siap untuk menjual teeeeeeeeeeeeet.. jangan, menjal apa ayo? Mending simpulkan sendiri. Siapa lagi... dia pasti Elizabeth. Dengan keyakinan yang kuat dan pertimbangan yang matang, Banci Pocong Alay menampakkan dirinya didekat Elizabeth.
“Aiidiicccchhh.. Toloong.. Pouccyoooong cyiiin” Elizabeth kembali berteriak.
“Eh cyinn.. diam dulu. Jangan teriak. Eyke baik kok!. Suerr ta’ kewer-kewer deh”
“Dosa apa sih eyke!. Kenapa sih you ganggu eyke?” tanya Elizabeth masih ketakitan.
“Eyke nggak niat mengganggu kok. Eyke mau berteman cyin”berusaha meyakinkan Elizabeth
“Aduh... pliss deh. Eyke mau mangkal. Kalau kamu di sini eyke nggak dapat duit malam ini. *&^$##@%%” celoteh Elizabeth
Ntah apa yang menyebabkan. Elizabeth kini sudah bisa menerima kehadiran Banci Pocong Alay. Percakapan mereka pun sepertinya sudah sangat hangat.
“Eh..cyin, tau nggak dulu aku juga sama seperti kamu locch” sahut Banci Pocong Alay
“Trus gw coprol-coprol sambil bilang wooow gitu”
“Ih.. tega banget. Eyke seriusss” dengan mimik sok serius
“Eh kamu punya Facebook enggak? Atau Twitter? Tanya Elizabeth
“Yah nggak ada. Dunia eyke udah beda. Kalau di perpocongan itu namanya CBP” jawab Banci Pocong Alay
“Oh iya yah! CBP??.. itu apose? tanya Elizabeth lagi
“Hahaha...kasi tau nggak yah!. CBP itu Chatting Bareng Pocong. So.. eyke bisa chatting dengan pocong-pocong lain yang ada di Singapur,Malaysia,Thailand,dan Korea”
“What??.. di Korea juga ada? Elizabeth bertanya lagi
“Ya iyalah. Pocong kan udah Go International”  jawab Banci Pocong Alay
          Tidak butuh waktu lama. Keakraban sudah terlihat diantra mereka. Banci Pocong Alay menceritakan sejarahnya menjadi Pocong. Dan sebaliknya, Elizabeth pun menceritakan sejarahnya menjadi waria. Ternyata mereka berdua mempunyai banyak kesamaan, seperti sama-sama banci, sama-sama 20 tahun, sama-sama suka pria putih ala-ala K-Pop, dan pastinya sama-sama alay. Yang membedakan hanyalah alam mereka berdua.
“Eh kamu jadul banget sih..” sahut Elizabeth
“Maksud mu?” tanya Banci Pocong Alay
“Ia jadul setengah mati bo’.liat dong eyke, pake mini-skirt diatas lutut. Pakai high heels lagi. Seksi kan??..”
“Eh... mini-skirt apa sih? Tanya Banci Pocong Alay
“Idihh.. cuco’ deh you. Noraaaaaak cyiin. Mini-skirt itu rok mini” jelas Elizabeth Karena ejekan Elizabeth, maka Banci Pocong Alay juga bermaksud merubah penampilannya. Dibantu Elizabeth, Banci Pocong Alay merenopasi penampilannya. Kain kafan putih itu kini menjadi mini-dressala pocong. Kebayang nggak kayak gimana?. Kini tali pocong bagian bawah tidak diikat di kaki lagi, melainkan dinaikkan menjadi di bagian paha. Oh my god.Tidak ada lagi loncat-loncatan, high heelstelah menghiasi kakinya. Wowww... kalau pengen liat secara langsung, datang aja ke Taman Lawang. Ditunggu yah!. Tapi kalau Anda termaksud pria yang berkulit putih, Stop! Mending nggak usah kesana. JANGAN.skali lagi JANGAN.
          Bukan Cuma itu, tali pocong dibagian kepala dihiasi pita-pita berwarna merah jambu. Yah, sudah bisa menyaingi Girlband-Girlband yang ada di Indonesia. Kain kafan yang berwarna putih, kini berubah total menjadi warnah merah jambu. Kata si Banci Pocong Alay, “biar tambah unyu-unyu gimana gitu”.
          Hampir tiap malam si Banci Pocong Alay dan Elizabeth mangkal bareng di Taman Lawang. Dan tiap malam pun tidak ada yang mendekati mereka. Walapun mereka telah menerapkan diskon 90% dalam bisnis permangkalan ini. Kaciiiiiian bangweet cihhhh.
          Sebelum mengenal Banci Pocong Alay, banyak pria-pria kesepian yang meghampiri Elizabeth. Ntah kenapa, selama bertemu dan berteman dengan si Banci Pocong Alay, Elizabeth kekurangan pelanggan. Elizabeth muak dengan semua kondisi ini. Elizabeth menganggap, semua sepeti ini karena si Banci Pocong Alay yang menyebabkannya. Dengan kata lain si Banci Pocong Alay adalah pembawa kesialan dalam kehidupan Elizabeth.
“Cyiin, sepertinya sampai disini persahabatan kita” berusaha agar membuat si Banci Pocong Alay tidak tersinggung
“Kenapa bo’?. Why? Kunaon atuh? “ tanya Banci Pocong Alay
Elizabeth menjelaskan semuanya. Tidak ada lagi senyum, kesedihan kini menyelimuti.Taman Lawang menjadi saksi putusnya persahabatan dua banci yang rempongnya minta ampun.
Berpisah... persahabatan itu tak ada lagi. Persahabatan banci dua dunia tak ada lagi. Kalau kata Rumor sih, “Terjatuh, dan tak bisa bersatu lagi”.
“See you cyiiiiiin....never leave you cyin”
Banci Pocong Alay sangat kehilangan sosok sahabatnya itu. Galau.. galau .. galau.
Empat hari, sepuluh jam, dan sembilan puluh sembilan detik. Banci Pocong Alay terus menngis dan menggalau. Dia sangata merindukan Elizabeth. Elizabeth telah pindah, ntah dimana tempat dia mangkal sekarang. Kalau kalian tau, tolong hubungi si Banci Pocong Alay yah. Kasian dia...tapi ingat kalau kalian pria berkulit putih. JANGAN. JANGAAAN..
Tahun demi tahun,bulan demi bulan, dan minggu demi minggu. Tepat malam jum’at kliwon, Bancing Pocong Alay merubah penampilannya kembali menjadi pocong berkain kafan putih. Syukurlah ada Loundry antar jemput kain kafan pocong. Jadi, Banci Pocong Alay tidak bersusah payah lagi mencuci kain kafannya sendiri. Tak ada lagi pita-pita berwarna merah jambu. Dan dengan tekat yang kuat dan perimbangan yang sudah sangat matang, Banci Pocong Alay bertekat mundur di dunia perpocongan. Dan ingin tidur dengan nyaman dimakamnya. Kita doakan saja, semoga Elizabeth dapat berubah. Dan Banci Pocong Alay tenang di alamnya. Amiiin. Salam cuco’
cerpen ini gak ada bagus-bagusnya sama sekali, yang ada cuma ALAY wkwk

1 komentar: