Sebut saja Banci Pocong Alay. Dia meninggal
diusia 20 tahun kurang . Tau nggak dia meninggal karena apa?. Dia meninggal
ditabrak angkot disekitar daerah Taman Lawang. Makanya Banci Pocong Alay ini
biasaya beraktifitas di daerah tersebut. Heh?.. Nggak percaya?? Silakan aja ke
Taman Lawang. Setiap malam Banci Pocong Alay keluar dari makamnya untuk
berlompat-lompatan, mengelilingi taman yang dihiasi wanita-wanita
yang.......jangan, tidak baik kalau menulis yang aneh-aneh. Mending kita sebut
saja wanita kantoran. Hehehe
Sebenarnya makan Banci Pocong Alay ini jauh
dari daerah Taman Lawang. Tapi karena matinya di daerah tersebut, jadi Banci
Pocong Alay ini sudah PW (Posisi wuenaak) di daerah tersebut.
Banci Pocong Alay?.. Emang ada?. Pasti
pertanyaan itu yang sekarang ada dipikiran kalian. Banci Pocong Alay ini sama
saja seperti Pocong pada umumnya. Memakai kain kafan, tubuhnya diikat, terus
nggak bisa jalan (bisanya lompat doankk). Dan kenapa dia banci?... emang dari
sananya seperti itu. Sewaktu masih menjabat sebagai manusia dan mempunyai KIM,
dia memang sudah melambai, rempong,
dan cuco’. Dan ternyata sifat dan
kebiasaannya itu di bibawa ke dunia perpocongan.
Ya malam ini malam jum’at kliwon. Sesuai
dengan perjanjian dunia perhantuan terdahulu, tertulis kalau Pocong dan
beberapa rekan-rekannya wajib untuk menghantui penduduk. Banci Pocong Alay pun
juga keluar dari makamnya. Loncatan demi loncatan, dan akhirnya Ia sampai di
Taman Lawang. Angin bertiup begitu kencang. Biasanya keadaan seperti ini si
Banci Pocong Alay pasti sudah beraksi. Kalau dikhas kayak Film horor, sudah ada
musik-musik seram yang membuat bulu kuduk merinding. Takyuuuutttt bo’
“Ho..ho.. ada waria. Gangguin ahh”
Angin berdesir makin kencang, daun-daun kering beterbangan.
Dan kemudian terdengar teriakan melengking. Tapi teriakan melengking ini
berbeda. Teriakannya agak sedikit melambai, rempong,
dan pastinya cuco’.
“Ah...aaaa POOOCCCCYYYYYOOOUNNNG” suara waria Taman Lawang
tampak gemetaran. Dia menutupi mukanya dengan sehelai kain yang dia bawa
ditangan kanannya. BanciPocong Alay dan waria Taman Lawang terdiam membisu, saling menatap.
“Hei.. you sapose? Tanya Banci Pocong Alay
“Ekyee??.. hee Eelizabeth “ jawabnya masih gugup
“Ye banci juga yah?” tanya pocong lagi
“Bukan, tapi ekye waria” masih gugup
“Sama aja kalllee..huuuu” Sahut Banci Pocong Alay dengan super
duper alay.
Ini pertama kali waria itu melihat pocong secara langsung. Karena
sudah sangat gugup dan ketakutan, waria yang nama malamnya Elizabeth itu kabur
tidak karuan.
“Eh bo’... sepatunya ketinggalaaaan” teriak Banci Pocong Alay
“EGP.... ekye nggak butuh..” berbicara sambil berlari
Sebenarnya
Banci Pocong Alay berniat untuk bersahabat dengan waria itu. Tapi mungkin waria
itu belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan kalau yang dia
temui adalah makhluk berpakaian putih ketat seperti gogos yang belum dibakar.
Nah kalo udah di bakar, modelnya kayak gimana yah?.
“Pokoknya Ekye harus berteman dengan waria itu!. Ekye kan
baik. Dan ekye yakin waria itu juga baik. Selain itu, spertinya dia asik untuk
diajak ngegosip tentang cowo’-cowo’ keren. Wooooww... capcussssss cyiiiin”
Malam
berikutnya, Banci Pocong Alay berniat untuk menemui waria itu. Hampir dua
jam,satu setengah menit, dan enam puluh delapan detik Banci Pocong Alay
menunggu Elizabeth ( waria Taman Lawang).
“Idih.. mana sih nih. Elizabeth kok nggak mangkal sih”
Dan beberapa menit kemudian, dari kejauhan terlihat seseorang
berpakaian layaknya seperti perempuan yang siap untuk menjual teeeeeeeeeeeeet.. jangan, menjal apa
ayo? Mending simpulkan sendiri. Siapa lagi... dia pasti Elizabeth. Dengan
keyakinan yang kuat dan pertimbangan yang matang, Banci Pocong Alay menampakkan
dirinya didekat Elizabeth.
“Aiidiicccchhh.. Toloong.. Pouccyoooong cyiiin” Elizabeth
kembali berteriak.
“Eh cyinn.. diam dulu. Jangan teriak. Eyke baik kok!. Suerr
ta’ kewer-kewer deh”
“Dosa apa sih eyke!. Kenapa sih you ganggu eyke?” tanya Elizabeth
masih ketakitan.
“Eyke nggak niat mengganggu kok. Eyke mau berteman
cyin”berusaha meyakinkan Elizabeth
“Aduh... pliss deh. Eyke mau mangkal. Kalau kamu di sini eyke
nggak dapat duit malam ini. *&^$##@%%” celoteh Elizabeth
Ntah apa yang menyebabkan. Elizabeth kini
sudah bisa menerima kehadiran Banci Pocong Alay. Percakapan mereka pun
sepertinya sudah sangat hangat.
“Eh..cyin, tau nggak dulu aku juga sama seperti kamu locch”
sahut Banci Pocong Alay
“Trus gw coprol-coprol sambil bilang wooow gitu”
“Ih.. tega banget. Eyke seriusss” dengan mimik sok serius
“Eh kamu punya Facebook enggak? Atau Twitter? Tanya Elizabeth
“Yah nggak ada. Dunia eyke udah beda. Kalau di perpocongan itu
namanya CBP” jawab Banci Pocong Alay
“Oh iya yah! CBP??.. itu apose? tanya Elizabeth lagi
“Hahaha...kasi tau nggak yah!. CBP itu Chatting Bareng Pocong.
So.. eyke bisa chatting dengan pocong-pocong lain yang ada di
Singapur,Malaysia,Thailand,dan Korea”
“What??.. di Korea juga ada? Elizabeth bertanya lagi
“Ya iyalah. Pocong kan udah Go International” jawab Banci Pocong Alay
Tidak butuh
waktu lama. Keakraban sudah terlihat diantra mereka. Banci Pocong Alay
menceritakan sejarahnya menjadi Pocong. Dan sebaliknya, Elizabeth pun
menceritakan sejarahnya menjadi waria. Ternyata mereka berdua mempunyai banyak
kesamaan, seperti sama-sama banci, sama-sama 20 tahun, sama-sama suka pria
putih ala-ala K-Pop, dan pastinya sama-sama alay. Yang membedakan hanyalah alam
mereka berdua.
“Eh kamu jadul banget sih..” sahut Elizabeth
“Maksud mu?” tanya Banci Pocong Alay
“Ia jadul setengah mati bo’.liat dong eyke, pake mini-skirt diatas lutut. Pakai high heels lagi. Seksi kan??..”
“Eh... mini-skirt apa sih? Tanya Banci Pocong Alay
“Idihh.. cuco’ deh you. Noraaaaaak cyiin.
Mini-skirt itu rok mini” jelas Elizabeth Karena ejekan Elizabeth, maka Banci
Pocong Alay juga bermaksud merubah penampilannya. Dibantu Elizabeth, Banci
Pocong Alay merenopasi penampilannya. Kain kafan putih itu kini menjadi mini-dressala pocong. Kebayang nggak
kayak gimana?. Kini tali pocong bagian bawah tidak diikat di kaki lagi,
melainkan dinaikkan menjadi di bagian paha. Oh
my god.Tidak ada lagi loncat-loncatan,
high heelstelah menghiasi kakinya. Wowww... kalau pengen liat secara
langsung, datang aja ke Taman Lawang. Ditunggu yah!. Tapi kalau Anda termaksud
pria yang berkulit putih, Stop!
Mending nggak usah kesana. JANGAN.skali lagi JANGAN.
Bukan
Cuma itu, tali pocong dibagian kepala dihiasi pita-pita berwarna merah jambu.
Yah, sudah bisa menyaingi Girlband-Girlband yang ada di Indonesia. Kain kafan
yang berwarna putih, kini berubah total menjadi warnah merah jambu. Kata si
Banci Pocong Alay, “biar tambah unyu-unyu gimana gitu”.
Hampir
tiap malam si Banci Pocong Alay dan Elizabeth mangkal bareng di Taman Lawang.
Dan tiap malam pun tidak ada yang mendekati mereka. Walapun mereka telah
menerapkan diskon 90% dalam bisnis permangkalan ini. Kaciiiiiian bangweet cihhhh.
Sebelum
mengenal Banci Pocong Alay, banyak pria-pria kesepian yang meghampiri
Elizabeth. Ntah kenapa, selama bertemu dan berteman dengan si Banci Pocong
Alay, Elizabeth kekurangan pelanggan. Elizabeth muak dengan semua kondisi ini.
Elizabeth menganggap, semua sepeti ini karena si Banci Pocong Alay yang
menyebabkannya. Dengan kata lain si Banci Pocong Alay adalah pembawa kesialan
dalam kehidupan Elizabeth.
“Cyiin, sepertinya sampai disini persahabatan
kita” berusaha agar membuat si Banci Pocong Alay tidak tersinggung
“Kenapa bo’?. Why? Kunaon atuh? “ tanya Banci
Pocong Alay
Elizabeth menjelaskan semuanya. Tidak ada
lagi senyum, kesedihan kini menyelimuti.Taman Lawang menjadi saksi putusnya
persahabatan dua banci yang rempongnya
minta ampun.
Berpisah... persahabatan itu tak ada lagi.
Persahabatan banci dua dunia tak ada lagi. Kalau kata Rumor sih, “Terjatuh, dan
tak bisa bersatu lagi”.
“See you cyiiiiiin....never leave you cyin”
Banci Pocong Alay sangat kehilangan sosok
sahabatnya itu. Galau.. galau .. galau.
Empat hari, sepuluh jam, dan sembilan puluh
sembilan detik. Banci Pocong Alay terus menngis dan menggalau. Dia sangata
merindukan Elizabeth. Elizabeth telah pindah, ntah dimana tempat dia mangkal
sekarang. Kalau kalian tau, tolong hubungi si Banci Pocong Alay yah. Kasian
dia...tapi ingat kalau kalian pria berkulit putih. JANGAN. JANGAAAN..
Tahun demi tahun,bulan demi bulan, dan minggu
demi minggu. Tepat malam jum’at kliwon, Bancing Pocong Alay merubah
penampilannya kembali menjadi pocong berkain kafan putih. Syukurlah ada Loundry antar jemput kain kafan pocong.
Jadi, Banci Pocong Alay tidak bersusah payah lagi mencuci kain kafannya
sendiri. Tak ada lagi pita-pita berwarna merah jambu. Dan dengan tekat yang
kuat dan perimbangan yang sudah sangat matang, Banci Pocong Alay bertekat
mundur di dunia perpocongan. Dan ingin tidur dengan nyaman dimakamnya. Kita
doakan saja, semoga Elizabeth dapat berubah. Dan Banci Pocong Alay tenang di
alamnya. Amiiin. Salam cuco’
cerpen ini gak ada bagus-bagusnya sama sekali, yang ada cuma ALAY wkwk
hahaha koplak :D
BalasHapus