Jam tangan putihku yang' istimewa' tepat menunjukkan angka 17:22 , tepat pukul itulah pesan yang terlalu asing diterima hp jadulku. Terlalu asing karena mungkin aku mengasingkan kontak itu sejak kamu berpaling dariku. Ntah apa yang kamu fikirkan, kamu menghubungiku dengan memecah janjimu dulu yang tak akan datang lagi datang dikehidupanku.
"bisakah kita bertemu malam ini? aku menunggumu di taman". itulah sepenggal kata-kata asing darimu.
Berulang kali aku memejamkan mata dan melihat pesan itu kembali. Sampai akhirnya aku percaya itu nyata. Aku tak yakin untuk datang, karena semua yang telah kamu lakukan. Tapi aku membuang jauh-jauh ego itu untuk mencoba mengubah memorial kelam. Agar aku bisa tenang dengan kembali lagi ke masa sebelum kita saling mengungkapkan 'rasa'. Untuk kembali ke masa ketika aku dan kamu adalah 'sahabat'. Ketika saat itu aku lebih menganggapmu sebagai seorang kakakku sendiri.
Tepat jam 17:12 aku mengacu sekuter merahku, melaju ke tempat yang kamu inginkan. Berbagai bayang-bayang terlintas. Berfikir, membayangkan, mempertanyakan, bagaimana bisa dia menhubungiku? Apa yang ia inginkan? Apa yang akan dia lakukan?
Sekitas 20 menit aku mengacu skuterku sampai aku berhenti memarkirkan skuterku di tempat yang tak jauh dari taman. Dan aku langsung berjalan menuju tempat yang ia janjikan dengan masih beribu pertanyaan di otakku. Disebuah lesehan, dan aku melihat ada banyak orang yang memesan makanan di tempat itu. Aku melihat wajah yang tak asing yang selama ini aku berusaha mengasingkan. Kamu duduk diantara banyak pasangan disana. Lalu aku menghampirimu dengan wajah cemberut, berusaha membuatmu mengerti tentang moodku saat ini. Mencoba duduk dihadapanmu. Walaupun akhirnya sampai beberapa menit tak ada kata yang terucap. Aku rasa masing-masingtak mau terlebih dahulu membuka pembicaraan.
Setelah aku membuka pembicaraan dengan sedikit suara batuk, dan aku memulainya, begitupun denganmu.
Terasa kaku sekali, terasa hambar. Ntah bagaimana gaya komunikasi kita berubah 180 derajat.
Tapi beberapa menit kemudian kamulah yang justru lebih terlihat komunikatif terhadapku, bahkan kamu 10 kali lipat lebih banyak melontarkan pembicaraan dan pertanyaan terhadapku. Sampai akhirnya pada pertanyaan yang aku tak tahu apakah harus aku menjawabnya.
"Apakah kamu tidak merindukan hubungan kita yang dahulu?"
Aku berusaha tidak menjawabnya tapi kamu mengulang pertanyaan itu lagi.
"Hey. Apakah kamu tidak merindukan hubungan kita yang dahulu?"
Tapi ditengah kebingungan, diantara jawaban YA atau TIDAK, aku menanggapi pertanyaannya tapi tidak menjawab pertanyaan itu.
"Seharusnya kita tak lagi membicarakan hal itu"
Tapi, setelah beberapa kegaguan percakapan kita, kamu mulai menggodaku. Seperti layaknya saat kita masih menjadi teman, saat kamu aku anggap sebagai kakakku sendiri. Karena dahulu ketika aku sedih, ketika aku banyak masalah, kamu selalu menghiburku dengan godaan khasmu. Saat itulah kelemahanku untuk tidak menahan tawa diantara sedihku.
Setelah itu kamu mengajakku untuk berkeliling taman. Sedikit demi sedikit, komunikasi kita mulai membaik persis seperti dahulu saat kita menjadi teman dekatku. Tapi tetap saja kamu menjengkelkan, menggodaiku, membuatku seolah olah aku menjadi anak umu 6 tahun. Seperti saat kamu menarik lenganku, aku merasa ibu memaksaku untuk pulang karena besok pagi aku harus bagi rapor kenaikan kelas 4.
Kamu memaksaku berpose alay untuk sekedar mengambil gambar di hpmu. Tapi ntah saja aku tak bisa mengelak, karena aku seperti anak kecil karena tingkahnya. Sampai ketika aku mereview foto yang baru saja kamu ambil tentangku, aku tak sengaja melihat fotomu bersama seorang laki-laki dengan keterangan waktu foto diambil tepatnya tanggal kemarin. Siapa yang tak berfikir itu adalah pacarnya ketika diposisiku. Aku meyakinkan prasangkaku sedikit menyinggung foto itu di tengah pembicaraan kita. Dan tak salah, kamu membenarkan prasangkaku.
Bagaimana bisa, perasaanku justru menjadi lega, masa kelam denganmu menjadi terobati. Akurasa kita memang lebih cocok berteman, karena kamu lebih peduli dan lebih bersikap denganku seperti adikmu sendiri. Tak kusangka semua jalan cerita ini adalah kisahku sendiri ketika aku tulis di blog. Mungkin aku hanya bisa mengakhiri semua ocehanku ini bahwa ternyata "SEKENARIO TUHAN BEGITU INDAH"

»»» (o '⌣' ) (y) $ìíîp
BalasHapus