Kamis, 16 Januari 2014

Pintar / Bodoh, Hanya Masalah Penempatan

Selamat malam sobat, tepat dimalam ini jari saya begitu hyperaktif. Ingin menari kesana kemari, dan saya beri kesempatan untuk menari di keyboard laptop jadul saya dengan sedikit irama yang diberikan otak kanan dan di tuturkan dengan otak kiri saya. Seiring berkembangnya zaman, sangat tidak dipungkiri lagi dengan berkembang pula berbagai macam pendidikan di indonesia. Dari pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Akan tetapi ada beberapa hal yang saya sesalkan dengan adanya peng-kasta-kasta-an tentang adanya kasta pintar dan kasta bodoh pada seseorang.


Dalam hal dimana orang menilai bodoh atau pintarnya seseorang bukanlah dari satu sudut pandang saja. Melainkan dari berbagai macam sisi. Bodoh pintarnya seseorang hampir sama dengan penilaian orang tentang baik dan buruk. Seseorang dikatakan baik dimata teman-temannya, keluarga, sanak saudara, rekan kerja. Tapi bagaimana jika itu dimata seorang wanita yang telah di putuskan olehnya? Sebaik apapun orang itu, maka dimata wanita yang telah disakitinya ia adalah orang yang tidak baik.

Baik. Coba diberi sedikit bumbu persamaan dengan penilaian tentang pintar / bodohnya seseorang. Saya yakin disudut bumi ini tidak ada orang yang bodoh. 100% saya yakin, bahkan saya berani meneruskan angka 0 dibelakang angka 1 sebanyak huruf dari setiap postingan yang ada pada blog saya jika itu tidak mengganggu anda untuk membaca tulisan saya ini. Sudut pandang menjadi acuan utama pada penilaian baik / buruknya seseorang. Dan jika anda ingin tahu, bahwa penilaian tentang pintar / bodohnya seseorang hanyalah masalah penempatan. Nah? bagaimana itu bisa terjadi?

Pada dasarnya tidak mungkin seseorang menguasai berbagai macam hal, atau menguasai segala hal yang ada di muka bumi ini. Setiap orang memiliki potensi dalam bidang tertentu. Dan potensi itu memberikan penguatan seseorang untuk menguasainya. Dalam arti lain pintar berarti menguasai. Mungkin akan saya beri sedikit garam sebagai penguat rasa pada pembahasan saya kali ini.

Cermati kata-kata saya berikut ini, "Guru fisika menguasai fisika. Guru matematika pandai menghitung. Pejabat pandai berpolitik. Penulis pandai manuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan yang baik dan terstruktur bagi dirinya dan pembaca. Pelukis pandai melukis." 

Sekarang kita acak antara penguasaan seseorang terhadap profesinya dari kelima macam kriteria yang saya tuliskan tadi. "Guru fisika pandai berpolitik. Guru matematika pandai menulis buku. Penulis pandai melukis. Pelukis pandai berpolitik. Pejabat pandai melukis."

Wah itu terasa sangat janggal bukan?
Saya coba ambil satu contoh profesi saja. Ketika seorang guru matematika yang pintar dihadapan murid-muridnya dan pandai menguasai kelas. Apakah ketika guru tersebut ditempatkan pada kelas seni lukis guru matematika tersebut bisa dikatakan pintar? Apakah guru matematika tersebut jika masuk ke dalam kelas sastra akan tetap terlihat pintar? Jawabannya jelas tidak! Bahkan saya berani memberi tanda seru untuk jawaban saya. Seorang professor sekalipun akan terlihat bodoh ketika berada di tempat yang dimana itu bukan bidangnya.

Ketika anda dikatakan bodoh oleh orang lain, ajaklah dia untuk berada di tempat yang tidak ia kuasai, atau ke sebuah tempat yang memang anda menguasainya. Tanpa repot-repot dia akan menunjukkan kebodohannya sendiri.

Mari kita sejenak berfikir, apakah diri kita sudah melakukan kesombongan dengan kepercayaan diri kita yang menganggap seseorang bodoh, atau menganggap diri kita lebih pintar dari orang lain? Yang ternyata kesombongan itu hanyalah hal yang memalukan untuk kita ingat kembali.

Postingan ini hanyalah sebagai penguat diri kita, cermin intropeksi diri dan sebagai tonggak kepercayaan diri kita terhadap kemampuan yang kita miliki.


Terimakasih
Jemari saya bosan dan ingin menari dengan berbagai tulisan yang lain
Salam saya @oonbe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar